Error
  • JLIB_APPLICATION_ERROR_COMPONENT_NOT_LOADING
  • Error loading component: com_users, 1
  • Error loading component: com_contact, 1

Duduk di Muka dan Uang Muka

Suatu waktu, ada anak kecil yang bersama keluarganya liburan ke Jakarta. Ketika menaiki kendraan dia meminta untuk duduk di depan. Lalu berucap “Bu saya mau duduk di Muka”. Lalu di lain tempat ketika terjadi transaksi jual-beli, penjual mengatakan bahwa proses ini terlebih dahulu ada harus ada uang ‘Muka’-nya. Atau singkatan dari bahasa Inggris yang sudah menjadi bahasa umum mengerti atau tidak mengerti di-Indonesiakan menjadi DP (baca: De-Pe).

Saat anak kecil tadi berucap mau duduk di Muka, orang sekelilingnya tersenyum lalu berucap, ‘Muka siapa yang ade mau duduki’ sehingga mengundang tawa.

Akan tetapi ketika penjual tadi mengatakan harus ada Uang Muka, tidak ada yang tertawa ataupun tersenyum.

Yang saya mau ungkapkan bahwa: Di beberapa daerah di Indonesia antara MUKA dan DEPAN itu samar perbedaannya. Dan cenderung saya mengatakan bahwa egoisme sebagian penduduk Jakarta (Ibu Kota) terlalu tinggi. Dimana saat masyarakat luar ibu kota menggunakan bahasa dengan dialek dan gayanya sendiri, maka dianggap itu lucu dan olok-olokan tersendiri. Sementara penduduk ibu kota sendiri dengan mencampur-adukkan antara bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa sehari-hari, itu adalah hal yang biasa. Ini adalah hanya hal kecil dari sebagian permasalahan besar yang dihadapi negeri ini.

Yang lebih saya mau tekankan adalah: Indonesia bukan cuma Jakarta, sehingga seluruh penduduk negeri ini harus memperhatikan wilayah-wilayah lain selain hanya P. Jawa. Hingga kemakmuran bisa merata dan “pembangkangan” karena rasa ketidak adilan  terhadap pemerintah akan hilang.

(pernah dimuat  pada blog dengan judul MUKA DAN DEPAN)

Add comment


Security code
Refresh

#
Logo SENSASI